Belajar Percaya di Tengah Ketidakpastian
Dalam kehidupan ini ketidakpastian bukanlah sebuah pengecualian, melainkan bagian dari perjalanan. Sering kali kita menginginkan sebuah kepastian dalam hidup. Namun, mengenai masa depan, pasangan hidup, pekerjaan, karier, bahkan jawaban doa tidak selalu pasti. Dalam keadaan seperti ini, iman kepada Yesus Kristus sering goyah.
Kitab Mazmur 37:5 mengatakan demikian, "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak." Ayat ini dengan jelaskan mengajarkan bahwa percaya bukan berarti kita memiliki semua jawaban, tetapi kita mengenal Pribadi yang memegang jawaban itu.
Hal inilah yang dialami Petrus ketika berjalan di atas air, masalahnya bukan pada ombak, tetapi pada saat ia mengalihkan pandangannya dari Yesus. Ketidakpastian tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan ketika fokus kita berpindah dari Tuhan kepada situasi atau pada masalah.
Sebuah ketidakpastian akan selalu menguji fondasi iman kita, semua bergantung kepada diri kita sendiri. Apakah kita takut atau percaya kepada Allah yang hidup dan berkuasa itu?
Aku Belajar Percaya
Berbicara tentang ketidakpastian dan rasa takut, tentu semua orang pernah berada pada posisi ini. Saya pun sering berada pada titik ini, terkadang sangat menakutkan. Ada tiga hal yang perlu kita renungkan supaya kita menjadi percaya diri dan berjalan dengan iman.
Pertama, Apa yang membuatmu takut saat ini?
Pertanyaan itu sering terdengar sangat sederhana, tetapi menyentuh bagian terdalam dari hati manusia. Rasa takut tidak selalu muncul dari sesuatu yang jelas dan terlihat; sering kali ia lahir dari ketidakpastian.
Takut bisa berasal dari banyak arah: masa depan yang belum pasti, kondisi keuangan, kesehatan, relasi yang mulai renggang, atau kegagalan yang pernah terjadi dan masih membekas. Dapatlah dikatakan bahwa rasa takut sering kali bukan hanya tentang situasi itu sendiri, tetapi tentang perasaan kehilangan kendali.
Jadi, rasa takut muncul karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi, dan kita tidak mampu memastikan semuanya akan baik-baik saja.
Kitab Yohanes 14:1 mengatakan, "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." Pada titik inilah iman seseorang berbicara.
Ketika kita tidak mampu menjamin masa depan, maka kita diundang untuk percaya kepada Yesus Kristus. Hal ini bukan untuk menghilangkan rasa takut, tetapi kita belajar untuk mempercayakan kehidupan ini kepada-Nya. Percaya berarti mengakui dan mempercayakan kepada-Nya, Dia akan melakukan yang terbaik untukmu.
Kedua, Apakah kamu fokus pada masalah atau pada Tuhan?
Secara manusiawi, fokus pada masalah adalah hal yang sangat alami. Ketika kita menghadapi kesulitan seperti tekanan hidup, masalah keuangan, masalah keluarga kita cenderung tertuju pada besarnya masalah itu. Kita mulai menghitung risiko, membayangkan kemungkinan terburuk. Akibatnya, rasa takut dan cemas serta putus asa mulai mengambil alih.
Padahal, Alkitab berulang kali mengarahkan kita untuk mengalihkan fokus; bukan dengan menyangkal realitas masalah, tetapi dengan melihatnya dari perspektif Tuhan. Salah satu gambaran yang sangat jelas adalah kisah ketika Petrus berjalan di atas air menuju Yesus Kristus dalam Kitab Matius 14:28–31.
Selama Petrus memandang kepada Yesus, ia mampu melakukan sesuatu yang secara logika sangat mustahil. Namun ketika ia mulai memperhatikan sekitar dan merasakan angin dan ombak, ia menjadi takut dan mulai tenggelam. Jadi, permasalahannya bukan terletak pada ombak, melainkan pada pergeseran fokus.
Amsal 3:5 mengingatkan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."
Ini berarti iman mengajak kita untuk tidak menjadikan masalah sebagai pusat pemikiran, tetapi Tuhan sebagai dasar kepercayaan. Fokus kepada Tuhan akan menghasilkan iman dan keberanian, sedangkan fokus pada masalah akan menghasilkan ketakutan dan keraguan
Ketiga, Bisakah kamu tetap percaya meski belum melihat hasilnya?
Bisakah kamu tetap percaya meski belum melihat hasilnya? Pertanyaan ini sangat menyentuh inti terdalam dari iman Kristen. Ini bukan tentang kesabaran saja, tetapi tentang keyakinan yang tidak bergantung pada bukti yang terlihat.
Secara rasional, kita cenderung percaya setelah melihat hasil. Kita akan merasa lebih tenang ketika ada kepastian, jawaban, atau tanda nyata bahwa segala sesuatu berjalan sesuai harapan. Namun iman kepada Tuhan Yesus sering kali berjalan dengan arah yang berlawanan: percaya terlebih dahulu, baru kemudian melihat.
Alkitab menjelaskan hal ini dengan sangat jelas dalam Ibrani 11:1: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."
Ayat ini menunjukkan bahwa iman bukan dibangun di atas apa yang sudah terjadi, tetapi pada keyakinan akan apa yang belum terlihat. Dengan kata lain, percaya berarti tetap berdiri teguh bahkan ketika hasilnya belum muncul.
Salah satu contoh yang kuat adalah kisah Abraham. Ia percaya pada janji Tuhan tentang keturunan, meskipun secara logika hal itu hampir mustahil karena usianya yang sudah lanjut.
Meskipun demikian, Abraham tetap percaya sebelum melihat penggenapannya. Jadi, dari kisah ini dapatlah disimpulkan bahwa iman sejati tidak bergantung pada situasi, tetapi pada karakter Tuhan yang setia.
Demikian juga kitab Roma 8:25 menjelaskan. Firman Tuhan mengatakan, "Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." Ayat ini menegaskan bahwa iman selalu berjalan bersama dengan pengharapan dan ketekunan.
Menunggu bukan tanda bahwa Tuhan tidak bekerja, tetapi sering kali justru tanda bahwa Tuhan sedang bekerja dalam cara yang belum kita pahami. Yuk belajar percaya dan mempercayakan seluruh kehidupan ini kepada-Nya, Tuhan Yesus memberkati.

Posting Komentar untuk "Belajar Percaya di Tengah Ketidakpastian"
Posting Komentar