Apakah Hari Penciptaan 24 Jam? Tafsiran Matthew Henry Lengkap

Apakah dunia benar-benar diciptakan dalam tujuh hari seperti yang tertulis dalam Kejadian? Dan apakah "hari" itu sama dengan 24 jam seperti yang kita kenal sekarang? Pertanyaan ini sering menjadi perdebatan umum di kalangan Kristen sendiri. 


Melalui tafsiran Matthew Henry, kita diajak untuk memahami bahwa kisah penciptaan bukan sekadar soal durasi waktu, melainkan tentang siapa Allah dan bagaimana Ia bekerja dengan penuh keteraturan dan makna.

Untuk memahami lebih dalam makna "hari" tersebut, maka kita perlu melihat bagaimana proses penciptaan itu berlangsung dari hari pertama hingga hari ketujuh sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Kejadian pasal 1.

Penciptaan Hari Pertama-Ketujuh

1. Hari Pertama: Allah menciptakan Terang (Kej. 1:1-5)

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan. Henry menegaskan bahwa ini menunjukkan kemahakuasaan Allah; tidak ada bahan sebelumnya, semua ada karena firman-Nya. Bumi pada awalnya belum berbentuk dan kosong, diliputi kegelapan, melambangkan kekacauan dan ketidakteraturan.

Ketika Allah berfirman, "Jadilah terang," terang pun muncul. Terang ini bukan sekadar fenomena fisik, tetapi simbol dari keteraturan, kehidupan, dan kebaikan. Terang adalah ciptaan pertama karena tanpa terang, segala sesuatu tidak dapat dilihat atau dinikmati.

Secara rohani, terang melambangkan karya anugerah dalam hati manusia. Sebagaimana Allah memulai ciptaan dengan terang, demikian pula Ia memulai pembaruan jiwa dengan penerangan rohani. Pemisahan terang dan gelap menunjukkan bahwa Allah adalah Allah keteraturan, bukan kekacauan.

2. Hari Kedua: Allah menciptakan Cakrawala (Kej. 1:6-8)

Pada hari kedua, Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air di atas dan di bawah. Henry melihat ini sebagai bukti kebijaksanaan Allah dalam menata dunia dengan struktur yang teratur.

Cakrawala (langit) bukan hanya ruang kosong, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang menopang bumi. Meski pada hari ini tidak disebutkan "Allah melihat bahwa itu baik," Henry tidak menganggapnya kurang penting, melainkan bagian dari proses menuju kesempurnaan.

Secara rohani, pemisahan ini mengajarkan bahwa Allah menetapkan batas-batas dalam kehidupan. Ia adalah Allah yang mengatur dan menahan kekacauan agar tidak melampaui batasnya.

3. Hari Ketiga: Daratan dan Tumbuhan (Kej. 1:9-13)

Allah mengumpulkan air sehingga daratan muncul, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Henry menyoroti dua hal: keteraturan dan kesuburan.

Bumi yang sebelumnya kacau kini menjadi tempat yang stabil dan produktif. Tumbuhan diciptakan dengan kemampuan menghasilkan benih menurut jenisnya, menunjukkan prinsip reproduksi dan keberlanjutan.

Henry melihat ini sebagai tanda pemeliharaan Allah. Ia tidak hanya menciptakan, tetapi juga menyediakan kebutuhan makhluk hidup. Secara rohani, ini mengajarkan bahwa Allah menghendaki kehidupan yang berbuah; iman yang menghasilkan perbuatan baik.

4. Hari Keempat: Matahari, Bulan, dan Bintang (Kej. 1:14-19)

Pada hari keempat, Allah menciptakan benda-benda penerang di langit untuk mengatur waktu; hari, musim, dan tahun. Henry menekankan bahwa benda-benda ini bukan untuk disembah, melainkan alat yang melayani manusia.

Ia juga melihat keteraturan kosmos sebagai bukti hikmat Allah. Segala sesuatu bergerak sesuai hukum yang ditetapkan-Nya.

Secara rohani, terang dari matahari dan bulan mengingatkan manusia akan terang ilahi. Seperti matahari menerangi dunia, demikian Allah menerangi jiwa manusia. Henry juga menegaskan bahwa manusia tidak boleh menyembah ciptaan, tetapi Penciptanya.

5. Hari Kelima: Ikan dan Burung (Kej. 1:20-23)

Allah menciptakan makhluk hidup di air dan udara. Henry mengagumi keberagaman ciptaan ini dan berbagai jenis ikan dan burung yang menunjukkan kekayaan kreativitas Allah.

Ia juga menekankan berkat Allah: "Berkembang biaklah dan bertambah banyak." Ini menunjukkan bahwa kehidupan adalah karunia yang diberkati.

Secara rohani ini mencerminkan kebaikan Allah yang melimpah. Ia bukan hanya menciptakan secukupnya, tetapi dengan kelimpahan dan keindahan.

6. Hari Keenam: Hewan dan Manusia (Kej. 1:24-31)

Hari keenam adalah puncak penciptaan. Pertama, Allah menciptakan hewan darat. Namun, yang paling penting adalah penciptaan manusia.

Manusia sebagai Gambar Allah. Henry menekankan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, yang berarti memiliki akal, moralitas, dan kemampuan berelasi dengan Allah. Ini memberi manusia martabat yang tinggi di atas ciptaan lain.

Mandat untuk Berkuasa. Manusia diberi kuasa atas bumi. Namun, Henry menekankan bahwa ini bukan izin untuk mengeksploitasi, melainkan untuk mengelola dengan tanggung jawab sebagai wakil Allah.

Penyediaan Allah. Allah menyediakan makanan bagi manusia dan hewan, ni menunjukkan pemeliharaan-Nya yang penuh kasih.

Penilaian: "Sungguh amat baik." Pada akhir hari keenam, Allah melihat seluruh ciptaan dan menyatakan bahwa semuanya "sungguh amat baik." Henry menegaskan bahwa tidak ada cacat dalam ciptaan Allah, segala sesuatu sempurna sesuai tujuan-Nya.

Secara rohani, manusia dipanggil untuk hidup sesuai gambar Allah, dalam kekudusan, kebenaran, dan ketaatan.

7. Hari Ketujuh: Allah Berhenti dan Menguduskan (Kej. 2:1-3)

Pada hari ketujuh, Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Henry menegaskan bahwa Allah tidak lelah, tetapi berhenti sebagai teladan bagi manusia.

Makna Perhentian. Perhentian ini menunjukkan kepuasan Allah atas karya-Nya. Ia bersukacita dalam ciptaan-Nya yang sempurna.

Pengudusan Hari Ketujuh. Allah memberkati dan menguduskan hari ketujuh. Ini menjadi dasar bagi hari Sabat; hari untuk beristirahat dan beribadah.

Matthew Henry menekankan bahwa manusia bukan hanya diciptakan untuk bekerja, tetapi juga untuk bersekutu dengan Allah. Istirahat bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi menikmati Allah. 

Hari ketujuh melambangkan perhentian rohani yang lebih besar; yaitu keselamatan dan kehidupan kekal. Ini menunjuk pada perhentian abadi bersama Allah.

Konsep Hari dalam Penciptaan

Menurut Matthew Henry, konsep "hari" dalam Kitab Kejadian (pasal 1) memiliki makna yang cukup jelas secara tekstual, tetapi juga mengandung kedalaman teologis yang penting. Ia tidak hanya melihat "hari" sebagai ukuran waktu, melainkan juga sebagai cara Allah menyatakan karya-Nya secara teratur dan penuh makna.

Ia cenderung memahami bahwa "hari" dalam penciptaan adalah hari biasa seperti yang dikenal manusia seperti sekarang ini, yang terdiri dari: "petang" (malam) dan "pagi" (siang).

Ungkapan berulang: "jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ke-…" menjadi dasar kuat bahwa yang dimaksud adalah siklus waktu nyata, bukan sekadar simbol. Karena itu, ia lebih dekat pada pemahaman hari literal (±24 jam).  

Konsep "Hari" ini juga menunjukkan urutan dan keteraturan ciptaan. Artinya bahwa Allah menciptakan secara bertahap (step by step) dan dalam urutan yang jelas (hari 1 sampai 7) serta dengan tujuan yang terarah. 

Jadi, "hari" berfungsi sebagai kerangka waktu dan sekaligus struktur yang menunjukkan hikmat dan keteraturan Allah. Allah tidak mencipta secara acak, tetapi dengan pola yang dapat dipahami manusia.

Kesimpulan Teologis

Dari seluruh rangkaian penciptaan, ada beberapa kesimpulan teologis yang menarik untuk dipelajari dan direnungkan:

  1. Allah adalah Pencipta yang Mahakuasa
  2. Segala sesuatu ada karena firman-Nya. Ini menjadi dasar iman dan kepercayaan manusia.
  3. Allah adalah Allah yang teratur dan penuh hikmat
  4. Penciptaan berlangsung secara bertahap dan terstruktur, menunjukkan kebijaksanaan ilahi.
  5. Ciptaan mencerminkan kebaikan Allah
  6. Segala sesuatu diciptakan baik, bahkan “sungguh amat baik.”
  7. Manusia memiliki martabat dan tanggung jawab
  8. Sebagai gambar Allah, manusia dipanggil untuk hidup benar dan mengelola ciptaan.
  9. Allah adalah Pemelihara
  10. Ia tidak hanya mencipta, tetapi juga menyediakan dan memelihara kehidupan.
  11. Istirahat adalah bagian dari rencana Allah
  12. Hari ketujuh mengajarkan keseimbangan antara kerja dan ibadah.
  13. Penciptaan menunjuk pada realitas rohani
  14. Terang, keteraturan, dan perhentian semuanya memiliki makna rohani yang lebih dalam.

Sumber referensi: 

Henry, Matthew, 1662-1714. Tafsiran Matthew Henry: Kitab Kejadian / Matthew Henry  cet. 1, Surabaya: Momentum, 2014. 

Posting Komentar untuk " Apakah Hari Penciptaan 24 Jam? Tafsiran Matthew Henry Lengkap"